Teungku: Jurnal Islam Pesantren, Pendidikan dan Sosial
https://jurnal.staidarulhikmah.ac.id/index.php/jip
<p data-path-to-node="1"><strong>Teungku: Jurnal Islam Pesantren, Pendidikan dan Sosial</strong> E-ISSN: <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN-L/2962-3146">2962-3146</a> merupakan jurnal ilmiah dengan sistem peninjauan sejawat ganda tertutup (<em data-path-to-node="1" data-index-in-node="156">double-blind peer-reviewed</em>) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Hikmah Aceh Barat, Aceh, Indonesia.</p> <p data-path-to-node="2">Jurnal ini mempublikasikan artikel penelitian, artikel konseptual, dan resensi buku mengenai Studi Islam Pesantren, Pendidikan, dan Sosial secara umum. Artikel-artikel dalam jurnal ini diterbitkan dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Juni dan Desember.</p>Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Hikmah Aceh Baratid-IDTeungku: Jurnal Islam Pesantren, Pendidikan dan Sosial2962-3146Penulisan Sebagai Alternatif Dakwah: Melestarikan Tradisi Keilmuan Islam di Era Digital
https://jurnal.staidarulhikmah.ac.id/index.php/jip/article/view/8
<p><em>Penulisan dakwah merupakan alternatif yang signifikan bagi Guru Pendidikan Islam (GPI) dalam menyampaikan pesan Islam secara fleksibel, sistematis, dan berkesinambungan. GPI sering menghadapi beban tugas pengajaran yang padat serta keterbatasan waktu untuk berdakwah secara lisan. Oleh karena itu, penulisan hadir sebagai medan dakwah tidak langsung yang melampaui batas teknologi dan memiliki daya ketahanan penyampaian ilmu yang lebih panjang. Penelitian kualitatif berbentuk studi kasus ini dilaksanakan untuk mengeksplorasi pemahaman GPI terhadap potensi penulisan sebagai instrumen dakwah di era digital. Melalui teknik pengambilan sampel bertujuan, sebanyak enam GPI yang aktif menulis dipilih sebagai peserta penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak ATLAS.ti 22. Temuan penelitian mengidentifikasi tiga tema utama: (i) keunggulan penulisan, (ii) kompetensi menulis, dan (iii) upaya meneruskan tradisi keilmuan. Nilai koefisien Kappa (K = 0,94) menunjukkan tingkat keselarasan tema yang sangat tinggi. Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran GPI terhadap dampak penulisan dakwah, sekaligus membudayakan aktivitas penulisan sebagai strategi melestarikan khazanah ilmu Islam dalam dunia pendidikan.</em></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Dakwah writing represents a significant alternative for Islamic Education Teachers (GPI) in conveying Islamic messages in a flexible, systematic, and sustainable manner. GPI frequently face heavy teaching workloads and limited time for oral da'wah. Writing thus emerges as an indirect da'wah medium that transcends technological boundaries and offers greater durability in knowledge dissemination. This qualitative case study was conducted to explore GPI's understanding of writing as a da'wah instrument in the digital era. Through purposive sampling, six actively writing GPI were selected as research participants. Data were collected through in-depth interviews and document analysis, then analyzed using ATLAS.ti 22 software. The findings identified three main themes: (i) the advantages of writing, (ii) writing competence, and (iii) the effort to sustain scholarly tradition. The Kappa coefficient value (K = 0.94) indicated a very high level of thematic agreement. This study is expected to strengthen GPI's awareness of the impact of da'wah writing, while cultivating writing as a strategy to preserve the treasury of Islamic knowledge in education.</em></p>Siti Zakiah binti BahronNursafra binti Mohd ZhaffarRedzuan bin Abdul Manap
Hak Cipta (c) 2026 Teungku: Jurnal Islam Pesantren, Pendidikan dan Sosial
2026-06-092026-06-0951124Maqāṣid al-Syarī'ah as Global Ethics: The Relevance of Tafsir Al-Mishbāḥ for Modern Civilization
https://jurnal.staidarulhikmah.ac.id/index.php/jip/article/view/9
<p><em>The need for a global ethical framework capable of addressing humanitarian crises, ecological degradation, social injustice, and moral disruption in the digital era has become increasingly urgent in contemporary discourse. Although studies on maqāṣid al-sharī‘ah have grown significantly, research that integrates this concept with global issues through the lens of Indonesian Qurʺnic exegesis, particularly Tafsir al-Mishbāḥ, remains notably limited. This study aims to analyze how M. Quraish Shihab interprets Qurʺnic verses related to maqāṣid and to evaluate their relevance as a foundation for global ethics in modern civilization. Employing a qualitative library-based method combined with thematic Qurʺnic analysis, this research finds that al-Mishbāḥ emphasizes universal ethical values such as human dignity, justice, moderation, social responsibility, and environmental consciousness. Further, Quraish Shihab’s adabī–ijtimā‘ī approach expands maqāṣid beyond its legal framework into a humanistic ethical paradigm compatible with global concerns including human rights, ecological sustainability, digital ethics, and conflict resolution. Academically, this study fills a gap in the literature by introducing the contribution of contemporary Indonesian exegesis to maqāṣid studies. Practically, it offers a model for integrating Qurʺnic ethical values into global moral discourse and highlights the potential of Indonesian Islam as a significant actor in shaping sustainable and humane civilizational development.</em></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em>Kebutuhan akan kerangka etika global yang mampu mengatasi krisis kemanusiaan, degradasi ekologi, ketidakadilan sosial, dan disrupsi moral di era digital semakin mendesak dalam wacana kontemporer. Meskipun kajian tentang maqāṣid al-sharī'ah telah berkembang secara signifikan, penelitian yang mengintegrasikan konsep ini dengan isu-isu global melalui lensa tafsir Al-Qur'an Indonesia, khususnya Tafsir al-Mishbāḥ, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana M. Quraish Shihab menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan maqāṣid serta mengevaluasi relevansinya sebagai landasan etika global dalam peradaban modern. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis kepustakaan yang dikombinasikan dengan analisis tematik Al-Qur'an, penelitian ini menemukan bahwa al-Mishbāḥ menekankan nilai-nilai etika universal seperti martabat manusia, keadilan, moderasi, tanggung jawab sosial, dan kesadaran lingkungan. Lebih lanjut, pendekatan adabī–ijtimā'ī Quraish Shihab memperluas maqāṣid melampaui kerangka hukumnya menjadi paradigma etika humanistik yang kompatibel dengan persoalan-persoalan global, termasuk hak asasi manusia, keberlanjutan ekologi, etika digital, dan resolusi konflik. Secara akademis, penelitian ini mengisi kesenjangan dalam literatur dengan memperkenalkan kontribusi tafsir Indonesia kontemporer terhadap kajian maqāṣid. Secara praktis, penelitian ini menawarkan model integrasi nilai-nilai etika Al-Qur'an ke dalam wacana moral global, sekaligus menyoroti potensi Islam Indonesia sebagai aktor penting dalam membentuk pembangunan peradaban yang berkelanjutan dan berperikemanusiaan.</em></p>Jung Muhammad Faried N.
Hak Cipta (c) 2026 Teungku: Jurnal Islam Pesantren, Pendidikan dan Sosial
2026-06-092026-06-09512548Adaptasi Kegiatan Keagamaan Masjid Al-Alawy Banjarmlati terhadap Perubahan Budaya Lokal-Global yang Dipengaruhi Media Sosial
https://jurnal.staidarulhikmah.ac.id/index.php/jip/article/view/10
<p><em>Perkembangan media sosial telah mendorong terjadinya perubahan budaya lokal-global yang turut memengaruhi praktik keagamaan di tingkat komunitas. Masjid tidak lagi hanya berfungsi sebagai ruang ibadah ritual, tetapi juga sebagai agen sosial dan kultural yang dituntut beradaptasi dengan dinamika budaya digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk adaptasi kegiatan keagamaan Masjid Al-Alawy Banjarmlati dalam merespons pengaruh media sosial terhadap perubahan budaya lokal-global, sekaligus mengidentifikasi peran masjid dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif mengikuti model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Al-Alawy mengadaptasi kegiatan keagamaannya melalui dua jalur komplementer: mempertahankan pengajian kitab kuning sebagai inti tradisi keilmuan Islam klasik, dan memanfaatkan platform digital seperti WhatsApp serta YouTube untuk memperluas jangkauan dakwah. Adaptasi ini bersifat kontekstual dan seimbang, menempatkan media sosial sebagai sarana pendukung, bukan pengganti praktik keagamaan tatap muka. Penelitian ini menegaskan bahwa keseimbangan antara tradisi dan inovasi memungkinkan masjid tetap relevan di tengah arus budaya digital global tanpa kehilangan akar budaya lokal.</em></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>The rapid development of social media has contributed to local-global cultural transformations that significantly influence religious practices at the community level. Mosques are no longer merely spaces for ritual worship; they have increasingly functioned as social and cultural agents required to adapt to the dynamics of digital culture. This study analyzes the forms of adaptation of religious activities at Masjid Al-Alawy Banjarmlati in response to the influence of social media on local-global cultural change, while identifying the mosque’s role in sustaining religious values and local cultural traditions. Employing a qualitative descriptive approach, data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using Miles and Huberman’s interactive model. The findings reveal that Masjid Al-Alawy adapts its religious activities through two complementary pathways: maintaining the classical Islamic scholarship tradition of kitab kuning recitation, and utilizing digital platforms such as WhatsApp and YouTube to extend the reach of da’wah. This adaptation is contextual and balanced positioning social media as a supplementary medium rather than a substitute for face-to-face religious practice. This study underscores that a balanced integration of tradition and innovation enables mosques to remain relevant amid global digital culture without losing their local cultural identity.</em></p>Zainal MustofaAnta GusnandaMuhammad Izzul Islami
Hak Cipta (c) 2026 Teungku: Jurnal Islam Pesantren, Pendidikan dan Sosial
2026-06-092026-06-09514968Deviant Thought Movement in Malaysia: Factor Analysis, Spread and Preventive Action
https://jurnal.staidarulhikmah.ac.id/index.php/jip/article/view/11
<p><em>Heretical teachings are a phenomenon that has existed since the early development of Islam and continue to pose a serious threat to the faith of Muslims, particularly in Malaysia. In the current context, the spread of deviant beliefs has become increasingly alarming due to globalization and advances in digital technology. Despite various efforts through the issuance of fatwas and the enforcement of sharia law, this issue remains difficult to contain. This study aims to identify the main factors behind the emergence of deviant thought movements in Malaysia, examine their prevalence patterns particularly through social media and cyberspace, analyze the negative implications for individuals and society, and propose effective prevention strategies. A qualitative approach is used through library research, involving content analysis of scientific sources, official documents, fatwas, and related past studies. Findings show that the main factors driving heresy include a lack of religious knowledge, the influence of charismatic leaders, and the misuse of digital media. Religious institutions such as JAKIM, the State Islamic Religious Departments, and the Mufti Departments are identified as critical pillars in enforcement and monitoring efforts.</em></p> <p><strong><em>Abstak</em></strong></p> <p><em>Ajaran sesat merupakan fenomena yang telah ada sejak awal perkembangan Islam dan terus menjadi ancaman serius bagi keimanan umat Muslim, khususnya di Malaysia. Dalam konteks kekinian, penyebaran ajaran sesat semakin mengkhawatirkan akibat pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi digital yang memudahkan penyebaran kepercayaan menyimpang secara cepat dan terselubung. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan melalui penerbitan fatwa dan penegakan hukum syariah, isu ini masih sulit dikendalikan dan menimbulkan tantangan besar bagi otoritas keagamaan. Studi ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor utama kemunculan gerakan pemikiran sesat di Malaysia, mengkaji pola penyebarannya melalui media sosial dan dunia maya, menganalisis dampak negatifnya terhadap individu dan masyarakat, serta mengusulkan strategi pencegahan yang efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis pustaka terhadap sumber-sumber ilmiah, dokumen resmi, fatwa, dan kajian terdahulu yang relevan. Temuan menunjukkan bahwa faktor utama kemunculan ajaran sesat meliputi minimnya pengetahuan agama, pengaruh pemimpin karismatik, dan penyalahgunaan media digital. Peran institusi keagamaan seperti JAKIM, Jabatan Agama Islam Negeri, dan Jabatan Mufti diidentifikasi sebagai pilar penting dalam upaya penegakan dan pemantauan. Studi ini juga mengidentifikasi beberapa contoh ajaran sesat di Malaysia beserta langkah-langkah pencegahan yang menekankan penguatan pendidikan agama, pemantauan media, dan kolaborasi terpadu antara institusi keagamaan, pemerintah, dan masyarakat.</em></p>Noor Adiba binti Darhman
Hak Cipta (c) 2026 Teungku: Jurnal Islam Pesantren, Pendidikan dan Sosial
2026-06-092026-06-09516984Ibn Khaldun's Thoughts on Islamic Educational Governance: Uniting Science and Ethics in Leadership Practice
https://jurnal.staidarulhikmah.ac.id/index.php/jip/article/view/12
<p><em>This study examines Ibn Khaldun's ideas on Islamic educational management, focusing on the integration of knowledge and morality in educational leadership. Employing a qualitative approach through literature review, this research analyzes Ibn Khaldun's monumental work, the Muqaddimah, along with relevant secondary sources. The findings reveal that Ibn Khaldun viewed education as a process of holistic human development, balancing intellectual, moral, and spiritual dimensions. In the context of educational leadership, he emphasized moral exemplars, justice, and ethical responsibility as foundational principles. These ideas remain highly relevant for contemporary Islamic education, particularly in addressing the value crisis and the dichotomy between cognitive achievement and character formation. The integration of knowledge and ethics, as formulated by Ibn Khaldun, serves as an essential foundation for developing a comprehensive and sustainable model of Islamic educational management.</em></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em>Penelitian ini mengkaji pemikiran Ibn Khaldun tentang manajemen pendidikan Islam, dengan fokus pada integrasi ilmu pengetahuan dan moralitas dalam kepemimpinan pendidikan. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini menganalisis karya monumental Ibn Khaldun, yaitu Muqaddimah, beserta berbagai sumber sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibn Khaldun memandang pendidikan sebagai proses pembentukan manusia secara holistik, mencakup dimensi intelektual, moral, dan spiritual secara seimbang. Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, ia menekankan keteladanan moral, keadilan, dan tanggung jawab etis sebagai prinsip utama. Pemikiran ini tetap relevan dalam menghadapi tantangan pendidikan Islam kontemporer, terutama krisis nilai dan dikotomi antara pencapaian kognitif dengan pembentukan karakter. Integrasi ilmu dan etika yang dirumuskan Ibn Khaldun menjadi landasan penting bagi pengembangan model manajemen pendidikan Islam yang komprehensif dan berkelanjutan.</em></p>Mokhamad Yaurizqika HadiDhea Queenta AuliyaSu’ud IntanMasaayu Huril Ain Kuni Afifah
Hak Cipta (c) 2026 Teungku: Jurnal Islam Pesantren, Pendidikan dan Sosial
2026-06-092026-06-09518597